Konfrontasi Malaysia, Harga Diri Bangsa ?

 

Jum'at sore, selalu menjadi waktu yang dinanti. Pasalnya, diskusi sejarah yang bebas nilai digelar oleh ekskul yang resmi berdiri tahun 2020 lalu. Tanggal 13 di bulan Agustus tahun 2021, bahasan yang diangkat adalah berjudul Konfrontasi Malaysia. Bagi saya ini amat menarik.

Messal selaku pemantik adalah murid kelas 11, membawakan materi sejarah yang penuh glorious itu. Dapat dikatakan, murid ini memiliki nyali yang boleh dibanggakan, bagaimana tidak, dia mampu dengan cukup baik berbicara dengan audiens guru, mahasiswa, dan siswa. Saya berseloroh: "biasanya murid presentasi kalau ada ganjaran nilainya, ini Messal secara sukarela tanpa ada imbalan apa-apa. Angkat topi saya!". 

Selesai paparan, peserta dikusi yang lazim dihadiri sekitar 20-an orang, memberikan pandangan masing-masing. Ya, di ekskul ini selain semua memposisikan dirinya ekual - sederajat karena semuanya adalah insan yang mau belajar, pola saling melengkapi dari bahasan yang disajikan menjadi menu utama. Dengan demikian, satu kali pertemuan maka materi sejarah yang diperbincangakan menjadi kaya. Tentunya, di ekskul ini, keteramilan berbicara plus argumentasi terus-menerus dipupuk dan ditumbuh-kembangkan.

Dalam kesempatan bahasan konfrontasi, saya fokus kepada tanya "kenapa Soekarno melakukan konfrontasi dengan Malaysia?". Tentu, saya langsung teringat materi kuliah saat PPG 2019, yang rasa-rasanya "nyeleneh" dan saya pun tak tahu kalau itu tepat atau tidak karena sang dosen tidak pula membahasnya, namun demikian saya menyakini itu dapat menggambarkan sekaligus menjawab tanya di atas.

Soekarno melakukan hal tersebut, dapat dipahami dengan melihat kondisi ketika itu (1960-65), antara lain:

1. Masih perang dingin, Soekarno terlihat mesra dengan blok timur (dan Inggris salah satu rivalnya). 

2. Indonesia menjadi jagoan atau negara yang dihormati sekaligus ditakuti karena teknologi alutsistanya. “Arah kiri” (Uni Soviet) yang mendekatinya, menguntungkan posisi Indonesia menjadi negara besar dan kuat di Asia. Di awal tahun 1960-an, Indonesia telah menjadi negara dengan kekuatan militer darat, laut, dan udara dengan alusista tercanggih. Indonesia menjadi kekuatan militer terbesar di dunia bagian selatan. Kondisi ini, membuat dunia segan dengan Indonesia. Terlebih kiprah Indonesia untuk negara-negara Asia dan Afrika yang masih terjajah dengan KAA, dan prestasi olah raga bulutangkis yang begitu mendunia. Point ini menegaskan bahwa Malaya adalah  dipihak lawan mengingat dukungan Inggris atas negaranya, dan Indonesia negara besar layaknya raksasa di negara yang akan merdeka disekitarnya.

Dengan kondisi demikian, rasa-rasanya tidak berlebihan jika ada kesepakatan yang dilanggar oleh pihak lain, maka itu bagaikan sebuah perilaku yang terlalu tak elok dilakukan. Ya, kedudukan Indonesia yang mampu berdiri tegak dan kepala mendongak ketika itu, menunjukkan bahwa Indonesia memiliki rasa percaya diri yang tinggi, maka sebuah “penghinaan dan penghianatan” kepada Indonesia akan dilibas Sukarno. “Penghianatan” malaysia terhadap Perjanjian Manila (Maphilindo), menghasilkan amarah besar Sukarno. Serasa harga diri bangsa yang agung diinjak-injak oleh Malaysia yang diyakini didukung Inggris sebagai simbol neo kolonialisme. Inggris kemudian melaksanakan pembentukan negara Malaysia diluar kesepakatan Maphilindo bahwa harus melalui referendum/jejak pendapat yang di sponsori PBB. Belum selesai PBB melakukan penelitian tentang jejak pendapat di Serawak dan Sabah, deklarasi negara Malaysia diproklamirkan. Brunei dan Singapura memilih tetap “dijajah” Inggris untuk beberapa tahun ke depan. Penghianatan ini semakin diperparah, dengan rencana, dan kemudian diwujudkan, negara baru Malaysia menjadi anggota tidak tetap dewan keamanan PBB.

Bagi saya, politik konfrontasi Sukarno adalah sudah seharusnya dilakukan demi marwah/harga diri sebagai bangsa. Dengan sendirinya, kondisi demikian, memperkokoh keberlanjutan NKRI dengan mengelorakan nasionalisme, khususnya setelah keguncangan di masa demokrasi liberal juga resesi ekonomi dengan "inflasi dluar batas akal sehat". Begitulah adanya, bagaikan mercusuar, terang ke dunia luar namun didalamnya masih gelap (penuh masalah). 






10 Komentar

  1. Analisanya cemerlang.... mantap Bung.

    BalasHapus
  2. Semoga ada messal Mesal yang lain yang berani tampil untuk presentasi dan tau serta paham akan sejarah Indonesia agar dapat meningkatkan kecintaan mereka pada bangsa.

    BalasHapus
  3. Ekskul Sejarah... Menarik.
    Seperti biasa setiap berkunjung ke blog bung cip, akan mendapatkan pandangan terhadap masa lalu dalam bentuk sejarah. Terimakasih, lanjutkan

    BalasHapus
  4. Terima kasih sudah berbagi fakta sejarah, sangat membuka wawasan.

    BalasHapus
  5. Baru menemukan sesuatu denagn istilah "ekskul sejarah". Bisa saya bawa pulang kisah seru ini sebagai rujukan. Terima kasih telah berbagi.

    BalasHapus
  6. Jadi tambah wawasan ttg sejarah mengapa ada konfrontasi dengan Malaysia pada masa itu. Trims sdah berbagi

    BalasHapus
  7. Keren, Pak. Biasanya pas bahas ini selalu semangat. Nasioalisme kita meningkat. Hehe

    BalasHapus
  8. Konteks kekinian (okt21) terhadap Singapura.

    BalasHapus
  9. Mantap ekstranya melatih anak untuk bisa berpendapat tentang sejarah. Keren nih ekstranya.

    BalasHapus
  10. Guru yang ektra, menghasilkan tulisan yang ektra. Kereens

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama