PTM 100% Sejarah Indonesia 11 IPA. Metode apa ini ya ?.


Kamis, 7 April 2022 adalah hari pertama setelah libur awal ramadhan. Pertemuan ini adalah minggu ke-4 bagi sekolah kami dalam menapaki pertemua tatap muka nyata dengan peserta didik (seharusnya) masuk semuanya. Istilah lazim kini adalah PTM 100%.

Rambu-rambu pelaksanaan pembelajaran masa pandemi yang belum total usai ini, tetap diutamakan. Protokol kesehatan mempengaruhi cara saya dalam mengembangkan pembelajaran di kelas. Tersebutlah oleh seorang rekan guru bahwa pola berkelompok bisa dipakai namun dengan teman satu mejanya saja. Saya menyetujuinya. Di jam akhir pembelajaran, sekitar pukul 09.50-11.00 WIB, pembelajaran sejarah Indonesia untuk kelas 11 IPA akhirnya digelar.

1. Setelah salam, do'a, dan absensi. Memantau kemampuan siswa dengan bertanya kondisi pribadi dan materi sebelumnya dilakukan. Tanya jawab lisan terjadi, dan kelas terasa dinamis dan beberapa diantaranya terlihat panik. Saya meyakini ini adalah dampak tidak baik dari pola belajar dari rumah yang seringkali banyak pemakluman. Fokus pemakluman ini dilakukan atas keyakinan bahwa guru harus menjaga imun siswa. 

2. Beberapa komentar dari saya terkait pengecekan kesiapan belajar ini, membuat mata mereka terbuka, terlebih saat dipaparkan bagaimana cara pembelajaran hari ini termasuk bagaimana cara mendapatkan nilai umum dan "plus" di pertemuan nyata ini. Bagi siswa yang nanti paparan atau merespon, harap menuliskannya dibuku catatan dan diakhir pembelajaran akan saya tanda tangani sebagai skor tambahan ya... Dasar anak IPA, saya ngelucu dan nyantai ngajarnya, tetap mereka terlihat serius dan tegang..hahahahaha...

3. Setelah saya refresh materi pertemuan sebelumnya dengan paparan kali ini yang memakan waktu sekitar 5 menitan, maka 6 sub materi disajikan. Kelompok siswa cukup di satu meja, jadi tidak ada mobilisasi dalam kelas. Jika dalam satu baris meja, dari depan ke belakang ada 6 meja yang terisi siswa, maka 6 sub usai. Jika kurang dari itu, sama seperti yang 6, pilihan materi bebas dan tidak boleh sama dengan kelompok lain dalam 1 barisan meja. 

4. Setiap kelompok siswa yang terdiri dari 2 orang samping-sampingan pada 1 meja, mengulas 1 materi dan membuat simpulan. Setelah 15 menit berlangsung, dimulailah sesi paparan.

5. Penegasan waktu berakhir mengerjakan dilakukan. Saya berdiri dimuka kelas dan berkata. "Silahkan kelompok mana yang mau bicara untuk materi no. 5 ?". Tanpa menunggu lama, seorang siswa mengacungkan telunjuk dan saya bilang: "silahkan berdiri bang". Ada yang melakukannya seperti pembaca berita, dan adapula yang lisan tanpa teks. Apresiasi atayu penghargaan secara otomatis saya berikan diakhir paparan mereka. "Mantap, keren, berkelas, cerdas, layak masuk kampus negeri komentarmu, adalah ujaran yang saya lontarkan. Ada juga tanpa kata, namun saya langsung angkat jempol, bisa 1 dan 2. 

6. Setiap siswa usai paparan, saya persilahkan ke forum: "adakah yang mau berkomentar terkait dengan materi ini ?". Umumnya terdiam, dan banyak diantaranya membaca pekerjaannya. sepertinya mereka fokus persiapan untuk sesi sesuai materi mereka. 

7. Lengkap sudah 6 materi disudahi, ada yang 1 materi hingga 3 kelompok, dan ada yang 1 kali (kelompok) untuk 1 materi saja. Namun kesempatan merespon dan mengambil kesempatan yang saya berikan menjadi ladang bagi siswa untuk memperolah nilai lebih atau nilai "plus". setiap kesempatan yang saya berikan, dibiasanyak dengan hitungan. Jika dihitung hingga 3, tidak ada yang acungkan jari, maka lanjut ke materi berikutnya. Tanpa kompromi..hahahaha...

8. Sebagai penutup pekerjaan siswa, secara mandiri saya persilahkan membuat simpulan dari paparan kelompok. "Ya, semua materi, bukan simpulan di tiap materi", tegasku. Waktu yang disediakan 5 menit, pas !!. 

9. Dibagian akhir ini, secara cepat, siswa menyambar tawaran dari saya. "saya, pak!", sambil jarinya diacungkan. Siswa mengutarakan isi simpulannya. "Cukup 3 saja", gumam daam hatiku. Wow, hasilnya oke. Keenam materi yang isinya ialah proses Indonesia merdeka, dari BPUKI hingga pembacaan teks proklamasi, disimpulkan mereka dengan apik. Diantaranya berujar: "bahwasanya, untuk meraih sesuatu (dalam hal ini kemerdekaan) harus dengan usaha yang sungguh-sungguh dan bekerjasama". Saya bilang, "bangsa ini bisa saja merdeka tanpa usaha apa-apa karena Jepang sudah menjanjikan segera memberikan kemerdekaan, tapi para pendiri bangsa ini dengan sadar lebih memilih jalannya sendiri. Ya, kini kita bangga bahwa kemerdekaan indonesia adalah bukan hadiah dari Jepang atau dari bangsa lain, akan tetapi dari perjuangan dan pertarungan. Kita ini adalah bangsa petarung! yang tidak akan menyerah begitu saja !". 

10. Rasa senang, saya ungkapkan dikelas, tak lupa kembali saya berikan apresiasi kepada siswa yang sudah jawab dan mengajak siswa yang belum melakukannya agar dipertemuan berikutnya agar disiapkan.

11. Sebagai penutup, saya utarakan apa yang sebenarnya dipelajari hari ini. "Kalian tau, apa yang ada dibalik pembelajaran hari ini ?. dengan kalian bekerja secara berkelompok, kalian sedang menumbuhkembangkan karakter kerjasama, presentasi/paparan adalah untuk kepercayaan diri juga berani, sementara temanmu bicara, yang lain menyimak, itu adalah belajar bagaimana caranya menghargai orang lain".

12. Do'a dan kelas ditutup. Mereka siap-siap pulang sambil menunggu piket untuk mempersilahkan keluar kelas, berbaris rapi menuruni tangga menuju rumah masing-masing....

Terus, metode pembelajaran kali ini apa namanya ya ?...hahahahahaha

7 Komentar

  1. Keren...Mr.Cipto ,Trimks sdh berbagi pengalaman .Hampir sama dg PTM di sekolah emak.Semangat...

    BalasHapus
  2. Metode diskusi Pak Cipto. Yang penting anak menikmati belajar dengan enjoy dan mencapai tujuan.

    BalasHapus
  3. Kreatif... Berdiskusi tentang materi yang disampaikan oleh setiap kelompok.
    Paten Pak Cip

    BalasHapus
  4. Mau dong ikut belajar Sejarah. Keren.

    BalasHapus
  5. Kayaknya menyenagkan sekali menjadi muridnya Pak Cip

    BalasHapus
  6. Diskusinya keren Pak Cip

    BalasHapus
  7. Sudah PTM 100% ya pak. Waah senangnya.. ..belajar dengan diskusi kelompok.

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama